Sunday, 4 January 2015

7 langkah sukses

Saya ingin mengulangi sekali lagi, bahwa sukses yang sejati adalah sebuah adalah perjalanan yang panjang dalam hidup ini. Sukses adalah sebuah proses yang terus menerus hingga kita meninggalkan dunia ini dan menghadap hadirat Allah. Jadi, sukses bukanlah sebuah “hasil” atau sebuah “kejadian khusus” dalam waktu tertentu, atau sebuah “keberuntungan” yang ditunggu-tunggu kehadirannya. 

Perlu dicatat juga bahwa dalam perjalanan panjang kesuksesan ini tidaklah ada jaminan bahwa segala sesuatu selalu berjalan lancar, mulus, dan tanpa rintangan, tantangan, kesulitan, atau kesusahan. Justru seringkali ada banyak hal yang akan menghalangi atau menjegal kita dalam perjalanan panjang itu. Terlebih lagi, sebagai orang yang percaya ada “ranjau-ranjau” yang mencoba menjatuhkan kita. Pada umumnya “ranjau-ranjau” itu dapat dikategorikan menjadi tiga hal yang bersumber dari:

  1. Iblis dan antek-anteknya yang menantikan hari pemusnahan mereka, masih mencari kesempatan untuk menarik sebanyak mungkin manusia agar hidup dalam dosa dan melawan kehendak Allah.

  1. Dunia yang sudah tercemar oleh dosa dan dikuasai si Jahat mencoba dengan segala kemewahannya, kekayaan materinya, kenikmatan nafsunya, dan keangkuhannya untuk mengajak manusia melampiaskan segala nafsu kedagingan, keserakahan, dan perbuatan-perbuatan yang melawan Firman Allah.

  1. Diri sendiri yang sering disebut dengan “Si Adam yang lama” atau “natur yang lama” atau “keakuan/ hidup yang lama” yaitu ‘hidup kedagingan’ kita sebelum diselamatkan oleh Kristus, seringkali masih mengajak kita kembali kepada hidup yang lama -- falsafah/ ide, pemikiran, emosi, karakter, kebiasaan, dan perbuatan yang melanggar Firman Allah – yang mendukakan Roh Kudus dan yang menjerat kita melakukan dosa dan kejahatan.

Sebab itu, kita harus berhati-hati dan waspada agar tidak terjebak dalam “ranjau-ranjau” diatas, sehingga perjalanan sukses kita terhambat, atau tersesat, atau  tidak fokus, atau menyimpang, atau terjatuh, dan akhirnya gagal sama sekali. Untuk itu kita perlu belajar “ tujuh langkah perjalanan sukses” yang memberikan kita kunci utama untuk menjalani perjalanan ini dengan mantap dan berhasil baik.



1.     Merancang Pertumbuhan Setiap Hari:

Sudah dibahas bahwa sukses itu bukanlah ibarat orang membeli ‘lottery’ dan menunggu ‘keberuntungan’ (luck) itu datang secara mengejutkan. Anda tidak perlu menunggu kapan sukses itu akan datang. Sukses juga bukan sebuah ‘tempat, hal atau tujuan’ yang akan dicapai pada waktu (usia) tertentu. Melainkan sesuatu yang sudah disediakan oleh Tuhan setiap hari. Ibarat ‘tangga’ yang harus didaki. Jika tidak, takkan mungkin tiba di tempat yang lebih tinggi. Ibarat ‘jalan’ yang harus dijalani. Bila tidak, tidak mungkin akan lebih maju. Ibarat ‘buah-buah matang’ yang harus dipetik setiap hari. Bila tidak, akan membusuk dan rusak. Ibarat ‘pekerjaan’ yang harus diselesaikan setiap hari. Bila tidak, akan tertunda dan terbengkalai. 

Dengan lain perkataan, sukses itu adalah perjalanan sehari-hari dengan segala aspek permasalahannya. Sebab itu langkah pertama perjalanan sukses yang sejati adalah merancang dengan baik pertumbuhan setiap hari. Rasul Paulus menuliskan Firman Tuhan kepada jemaat Kolose, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:6-7). Artinya, bahwa sebagai orang yang percaya, yang sudah diselamatkan Kristus, janganlah kita menyia-nyiakan hidup ini, melainkan ibarat pohon haruslah terus berakar lebih dalam, bertumbuh lebih besar dan tinggi, berdaun lebih rindang, dan berbuah lebih lebat. Ya, suatu perjalanan pertumbuhan yang terus menerus tanpa berhenti. Berhenti sesungguhnya sama dengan mundur, sebab waktu yang ada dalam hidup ini terus bergerak maju.

Jangan tunggu “inspirasi” atau “ilham” datang, barulah mulai kerja keras dan belajar. Jangan pula memanjakan “perasaan” – kalau marasa enak baru lebih giat dan kerja keras. Tetapi mulailah merencanakan pertumbuhan itu setiap hari – dalam semua aspek hidup yang Tuhan sudah berikan. Baik dalam karier, studi, relasi keluarga dan dengan sesama, finansial, pengetahuan (rasio), emosi/kejiwaan, dan aspek spiritual. Termasuk juga dalam hal-hal lain yang membuat relax pun tidak kalah pentingnya untuk direncanakan dan dilakukan dengan teratur. Misalnya: waktu untuk bermain dengan keluarga, olah raga, piknik, dan lain sebagainya.

Beberapa langkah praktis yang dapat saya usulkan bagi Anda adalah:

A.     Mulailah dari diri sendiri! Artinya jangan tunggu orang lain yang memulainya dulu, atau cari rekan untuk
 memulai, atau lihat dulu pengalaman orang lain, atau alasan lain untuk tidak memulainya dari diri sendiri. Misalnya:
 menabung dengan rutin. Jangan tunggu orang lain yang membujuk atau memaksa, baru mau pergi ke bank.
Tetapi mulailah dulu dengan diri sendiri.

B.     Mulailah sedini mungkin! Artinya Hari Ini juga atau Sekarang juga. Jangan tunggu besok dan besok
 dan besok dan besok dan besok yang tidak habis-habisnya. Menunda-nunda adalah sebiah kemalasan.
Dan kemalasan adalah dosa. Misalnya: menabung dengan rutin tadi, Hari Ini atau Sekarang juga!
Ya. Stop baca buku ini! Sekarang juga pergi ke bank untuk menabung.

C.     Mulailah dari yang sederhana! Artinya mulai dari yang kecil dan mudah dilakukan.
Misalnya: menabung dengan rutin tadi. Jangan tunggu ada sejumlah uang yang banyak baru mulai menabung.
Tetapi mulailah dari yang ada.
Katakanlah Anda menabung Rp.1000,- sehari,
maka dalam setahun Anda sudah menabung Rp.365.000,- plus bunga lagi. Lumayan kan?

D.     Mulailah dengan teratur! Artinya rapi, rutin, dan terorganisasi dengan baik.
Jangan sampai tergoda oleh hal-hal lain yang membuat pertumbuhan itu terhenti.
Misalnya: menabung dengan rutin tadi. Ingat, setiap hari sisihkan Rp.1000,- untuk ditabung.
Jangan biarkan keinginan lain untuk membatalkan pertumbuhan tabungan Anda, misalnya:
 ingin beli permen atau beli sesuatu yang lain yang tidak “emergency”
yang pasti akan menghalangi pertumbuhan Anda.

Contoh diatas mengenai ‘menabung dengan rutin’ hanyalah sebuah contoh sederhana saja. Keempat langkah praktis tadi bisa Anda pakai dalam aspek-aspek lainnya. Misalnya: membaca Alkitab, berdoa, berolah raga, membaca buku, mendengarkan musik, bermain dengan keluarga, membangun persahabatan dengan sesama, pelayanan di gereja, berorganisasi di masyarakat, berlibur, dan lain sebagainya. Intinya hanya satu. Bertumbuh secara teratur setiap hari sesuai dengan rancangan yang seimbang dan baik.




2.     Pergunakan Waktu Dengan Bijaksana:

Langkah kedua dalam perjalanan sukses yang sejati adalah mempergunakan waktu dnegan bijaksana. Rancangan pertumbuhan yang dibahas pada poin nomor satu diatas sangat erat hubungannya dengan mempergunakan waktu dengan bijaksana ini.  Salah satu kunsi sukses dari orang-orang sukses di dunia ini adalah soal mengatur waktu dengan bijaksana. Mereka yang sukses di dunia dan di akhirat tahu jelas dalam membedakan mana yang penting dan yang bernilai abadi.

Dalam hidup kita ada empat kategori hal yang dihadapi setiap hari. Bila kita tidak bjaksana dalam mengatur waktu dan memiliki prioritas yang benar, pastilah hidup kita kacau, berantakan, stress, frustrasi, depresi, dan akhirnya gagal. Perhatikan empat kategori dibawah ini:

A.     Hal yang penting dan mendesak.  Misalnya: ayah sakit keras, ujian pada esok hari,  proyek yang harus diserahkan nanti sore, istri harus melahirkan, anak ditangkap polisi, suami kena serangan jantung, dan hal-hal darurat (‘emergency’) lainnya. Biasanya, untuk hal-hal ini mau tidak mau – tidak ada pilihan, pastilah kita sediakan waktu kita, dan meninggalkan kegiatan rutin kita. Karena memang ‘emergency’.

B.     Hal yang penting tidak mendesak.  Misalnya: membangun komunikasi dengan anggota keluarga, olah raga yang rutin, baca Alkitab, berdoa ibadah, pelayanan, menemani anak bermain, dan hal-hal lain yang sering ditunda-tunda. Biasanya karena dianggap tidak mendesak – akibatnya juga dianggap tidak penting! Akibatnya, kita sedikit sekali menyediakan waktu untuk hal ini, padahal sangat penting. Lama kelamaan, karena tidak ada waktu terus untuk hal B ini, tiba saatnya, ibarat  ‘bom waktu’ ia berubah menjadi hal A (‘emergency’) yang berbahaya, namun sudah terlambat. Misalnya: tidak menjaga makanan dan tidak mau olah raga teratur, akhirnya kena ‘stroke’; barulah mulai rajin dan rutin olah raga dan menjaga makan dengan baik. Atau anak sudah kena ‘narkoba’ barulah menyesal selama ini tidak membangun komunikasi yang baik dan tidak pernah beribadah dan berdoa.

C.     Hal yang tidak penting tapi mendesak.  Misalnya: dering telepon entah dari penjaja lewat telephone atau dari teman yang iseng mengajak gossip, ‘bell’ di pintu depan, ajakan ngobrol ngalor ngidul (ngerumpi), atau hal-hal lain yang menginterupsi dan meminta kita respons segera. Sesunggunya hal C ini tidak perlu disediakan waktu yang banyak, atau bila perlu dihindarkan. Namun, seringkali manusia terjebak dengan hal C ini. Karena ia mendesak – walaupun tidak penting – misalanya telephone ajak ngerumpi, ternyata dilayani hingga berjam-jam lamanya. Akibatnya, waktu untuk hal yang penting diatas (hal B) terambil oleh hal C ini.

D.     Hal yang tidak penting dan tidak mendesak. Misalnya: internet/ nonton TV lama-lama, bermain video game seharian, melamun/ menghayal yang tidak-tidak, membaca majalah atau buku yang tidak membangun, gossip, berleha-leha di ‘shopping mall’, nongkrong di kedai kopi, dan hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat sama sekali, hanya membuang-buang waktu. Manusia yang tidak bijaksana akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal D ini. Demikian pula dengan manusia yang tidak merencanakan waktunya dengan baik akan terjebak membuang-buang waktunya untuk hal-hal D ini. Hati-hatilah!

            Anto adalah tipe manusia yang sibuk luar biasa. Setiap hari dia diperhadapkan kepada hal-hal yang urgen (mendesak) misalnya: proyek yang mencapai ‘deadline’, telepon yang tidak henti harus dijawab, lobby dengan orang berpengaruh, mengatur strategi marketing, rapat dengan atasan, berbagai jamuan ‘entertainment’ dengan rekan bisnis dan mengejar target proyek berikutnya. Secara tidak sadar, dia telah menjadikan dirinya “pahlawan” yang serba bisa dan luar biasa. Hingga suatu hari, seusai makan malam dengan rekan bisnisnya, dia merasakan sakit di dadanya. Kurang dari satu menit, dia ambruk. Segera dia dilarikan ke rumah sakit. Ternyata dia kena stroke, dan dokter mengharuskan dia operasi ‘bypass’ dan rawat inap. Ketika keluarganya diberitahu, anaknya, Joko menjawab di telepon: “Maaf papa, saya lagi sibuk dengan tugas sekolah dan ujian yang urgen (mendesak). Tidak sempat pulang melihat papa.” Istrinya telepon dari Paris: “Maaf sayang, saya lagi mencarikan pakaian pengantin Nonik. Ini urgen (mendesak). Nonik dan saya baru bisa balik minggu depan.”

Pada saat kritis itulah, Anto baru sadar apa bedanya antara “Yang Penting” dan “Yang Urgen”. Jelaslah bahwa keluarga dan kesehatan jauh lebih penting daripada hal-hal rutin lainnya yang setiap hari tidak akan pernah berakhir, yang selalu mendesak (Urgen). Memang yang ‘Urgen’ selalu ‘berteriak-teriak’ ingin menyita waktu kita. Sedangkan yang ‘Penting’ nampaknya lebih tenang, diam, dan menanti kapan kita membagikan waktu kepadanya. Hati-hatilah! Jangan-jangan ketika kita sibuk menyelesaikan yang urgen, kita pikir sudah melakukan hal yang benar dan tepat. Padahal ada banyak hal penting (keluarga, kesehatan jasmani dan rohani) yang sudah kita abaikan, dan kita sedang dalam bahaya! Jangan tunggu sampai waktu kritis tiba, barulah sadar membedakan manakah yang penting dan manakah yang urgen. Pada waktu itu, menyesalpun sudah terlambat!

Orang yang bijaksana dalam mengatur waktunya, adalah orang yang tahu membuat prioritas dengan baik dan benar. Berprioritas bukanlah memberi urutan kepentingan dalam hal-hal nyang ada dalam hidupnya. Jangan bertanya mengasihi Tuhan dan mengasihi keluarga dan sesama mana lebih penting? Jangan tanya mana nomor satu dan mana nomor dua?  Ingatlah ajaran Tuhan Yesus bahwa kedua-duanya sama pentingnya (bacalah: Matius 22:37-40).
            Berprioritas berarti kita tahu mengatur/merencanakan pengunaan waktu kita – yang sehari 24 jam itu -- dengan baik dan bijaksana untuk melakukan hal-hal yang penting tetapi tidak mendesak (no.B) sehingga tidak mengalami stress, bingung, dan kewalahan ketika hal penting menjadi mendesak (emergency).
            Berprioritas juga berarti kita tahu memperlakukan hal yang tidak penting, baik mendesak atau tidak (no.C dan no.D) dengan memberikan perhatian dan waktu sesedikit mungkin. Bila perlu untuk hal D, jangan sediakan waktu sama sekali.
            Berprioritas juga berarti tahu menangkap kesempatan untuk “berbuat sesuatu” dalam hal penting dan mendesak (no.A) bukan hanya untuk menolong anggota keluarga sendiri, melainkan juga menolong orang lain. Karena seringkali kesempatan untuk berbuat baik itu tak pernah terulang kembali. Contohnya: Yusuf Arimatea dan Nikodemus yang mencari kesempatan untuk meminta mayat Yesus dan dikuburkan dalam kuburan baru milik Yusuf Arimatea telah berhasil berprioritas tepat bahkan menanamkan “sesuatu yang bernilai kekal” karena mereka melakukannya “bagi Yesus Kristus”.   

Henry Kaiser adalah seorang pemilik dan pendiri perusahaan aluminum “Kaiser” dan juga pendiri “Kaiser Permanente Health Care”, rumah sakit dalam jumlah yang cukup banyak dan asuransi kesehatan yang telah membantu banyak orang di Amerika. Dia dapat dikategorikan sebagai orang yang sukses pada bidangnya dan juga hal-hal lain dalam hidupnya yang cukup banyak menjadi ‘berkat’ bagi masyarakat luas. Dia pernah mengatakan: “Setiap menit yang dikerjakan dengan rencana yang bijaksana, akan menolong engkau dua kali dalam setiap pengambilan keputusan. Engkau tidak dapat meraih waktu yang sudah terhilang; sebab itu pergunakanlah setiap waktu yang ada dengan maksimal.”

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus mengingatkan mereka agar menggunakan waktu dengan bijaksana. “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:15-17). Sampai dua kali Paulus menegur dengan keras. Bahwa mereka yang tidak bijak/ arif menggunakan waktu disebutnya “bodoh” dan “bebal”. Kata “bebal” lebih keras daripada kata “bodoh”. Dosen saya berkata secara humoris; “Bodoh itu ibarat kerbau (yang mau dicucuk hidungnya dan ditarik kemana-mana), lalu bebal itu ibarat kerbau yang bodoh.” Jadi, kebodohannya berlipat ganda (ha ha ha).

Istilah “pergunakanlah” dalam ayat diatas mengandung dua pengertian yaitu:

  1. “Menebus kembali” artinya kita diajak berpikir adakah waktu-waktu lalu kita terbuang dengan sia-sia; ketika kita belum menganal Kristus. Pikirkan itu dan rencanakan di waktu-waktu sekarang untuk ‘menebus’nya kembali agar bisa memperoleh nilai-nilai yang bersifat abadi. Misalkan: dahulu Anda pernah menghabiskan 2 tahun untuk berjudi dan sia-sia. Kini, bukan saja perlu bertobat, tetapi minmal gunakanlah 2 tahun untuk menolong teman-teman Anda yang masih terikat dengan perjudian. Pekerjaan ini sungguh mulia dan menghasilkan nilai-nilai kekal, ibarat ‘tabungan’ di sorga.

  1. “Memborong Sebanyak Mungkin” artinya kita diajak untuk bijak menggunakan ‘kesempatan’ yang ada, yang seringkali tidak terulang kembali untuk melayani pekerjaan Tuhan yang bernilai abadi. Sebab ketika kita meninggal, atau kedatangan Kristus kedua kalinya pada hari kiamat akan menutup semua kemungkinan untuk melayani dan ‘berbuah’ bagi Kristus dan KerajaanNya. “Memborong sebanyak mungkin” artinya memakai dan mencipatakan kesempatan sebanyak mungkin ketika masih di dunia ini. Mengapa? Karena “hari-hari ini adalah jahat” artinya, si Jahat (Iblis) dan antek-anteknya pun setiap hari mencoba dengan sekuat tenaganya, strateginya, dan kelicikannya untuk memborong waktu-waktu kita agar kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Sebab itu, beranilah ‘bermimpi di siang hari’, artinya “bercita-cita tinggi dan besar”.  Bukan untuk kesenangan diri, melainkan untuk Kerajaan Allah – untuk kemuliaan Allah dan untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Lakukanlah pekerjaan pekabaran Injil dan pemuridan yang membangun orang lain agar menjalani perjalana sukses di dunia dan di akhirat ini juga. Suatu perjalanan sukses hingga bertemu dengan Tuhan, Sang Pencipta, Juruselamat, Hakim segala hakim, dan Raja segala raja, Yesus Kristus di akhirat nanti.




3.     Rela Membayar Harga Yang Mahal: 

Langkah ketiga dalam perjalanan sukses adalah rela membayar harga mahal demi nilai-nilai abadi, yang kita lakukan dalam Nama Kristus yang menyelamatkan kita, dan demi kepentingan orang lain – mengasihi sesama sebagai wujud nyata mengasihi Tuhan Allah. Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:24-27). Perjalanan sukses yang panjang bukanlah perjalanan yang mudah dan ‘murah’. Sebaliknya ada harga mahal yang perlu dibayar. Hukum dunia mengajarkan: “Engkau mendapatkan apa yang engkau bayar.” Jika engkau membayar murah, engkau akan mendapatkan barang murahan, kualitas rendahan. Sebaliknya, barang yang bermutu dan baik biasanya mahal harganya. Sama halnya dengan perjalanan sukses ini. Hanya orang yang rela membayar harga mahal yang akan menikmati sukses yang sejati sepanjang perjalanannya.

Rasul Paulus menangkap pengajaran Tuhan Yesus, dan sepanjang hidup dan pelayanannya, kita menyaksikan bahwa dia telah rela membayar ‘harga mahal’ berani mengambil ‘resiko besar’ dan siap ‘mempertaruhkan nyawanya’ demi Kristus dan FirmanNya, demi Kerajaan Sorga dan demi menjadi berkat bagi banyak orang. Dia kemudian menuliskan kepada jemaat Filipi supaya mereka pun belajar dalam kebenaran ini, yaitu “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:3-5).

Orang yang sukses adalah orang yang berani berkata “tidak” untuk kesenangan diri, dan berkata “ya” kepada kehendak Tuhan walaupun kelihatannya harus berkorban, dan membayar ‘harga mahal’. Ada pepatah yang berkata: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”  Artinya kita hatrus berani mengorbankan kesenangan diri (menderita dahulu) demi mendapatkan kesempatan dan berkat yang lebih baik dan lebih tinggi nilainya (berbahagia kemudian). Dengan kata lain, orang yang berani membayar “harga mahal” terlebih dahulu, kelak ia akan memetik hasil yang lebih indah, dan “upah” yang lebih besar dan mulia.

Hidup di dunia seringkali ibarat orang yang “berdagang” dan ada keputusan yang harus diambil dengan resikonya masing-masing. Keadaan kritis seringkali datang pada saat-saat yang tidak bisa kita duga dan kita berada di persimpangan jalan untuk segera mengambil keputusan. Pertanyaannya, beranikah kita mengambil keputusan dengan resiko tinggi dan harga yang mahal?  Kalau ya, apa dasarnya dan apa prinsipnya yang baik, benar dan tepat dalam pengambilan keputusan tersebut?  Orang yang sukses adalah orang yang berani “berdagang” (“trade”) untuk kesuksesan yang lebih tinggi nilainya, yang kekal nilainya (bukan sesuatu yang lebih ‘rendah’ yang bersifat duniawi dan sementara), walaupun dalam hal-hal materi dan duniawi seringkali dianggap rugi. Artinya, dasar pertimbangan yang baik, benar, dan tepat adalah kebenaran Firman Tuhan, yaitu demi KerajaanNya, KebenaranNya, dan demi keselamatan atau kebaikan orang lain, sehingga Nama Tuhan Allah yang dipermuliakan.

Kasmin (bukan nama sebenarnya) adalah seorang suami dan ayah yang baik. Dia bisa membagi waktu dengan baik dalam bekerja, menemani keluarga, olah raga, membina pergaulan, beribadah dan melayani Tuhan dengan efektif. Suatu kali dia ditawari pekerjaan baru dengan bayaran gaji dua kali lipat, plus dapat bonus pinjaman beli rumah dan mobil baru. Nampaknya pekerjaan baru ini mirip dengan pekerjaan sekarang, hanya bossnya ingin dia datang ke kantor lebih awal dari bossnya dan pulang lebih akhir dari bossnya. Singkatnya, dia menerima tawaran pekerjaan itu.

Pada bulan pertama nampaknya semua berjalan baik. Hanya beberapa bossnya terlambat pulang, sehingga Kasmin harus ikut terlambat pula, alias lembur. Pada bulan-bulan berikutnya, bossnya lebih sering pulang telat, bahkan seringkali bossnya juga masuk lebih pagi. Mau tidak mau sesuai perjanjian, Kasmin harus pulang telat dan masuk lebih pagi dari bossnya. Akibatnya, waktu untuk keluarga tersita, olah raga terabaikan, pergaulan terganggu, bahkan pelayanan dan ibadahnya pun ditinggal karena bossnya sering kerja Sabtu dan Minggu. Singkat cerita, gara-gara boss yang ‘workaholic’, Kasmin masuk dalam perangkap menjadi ‘budak’ karier. Uang telah memperbudak dirinya dan memenjarakan dirinya. Untunglah, Kasmin cepat menyadari bahaya ini. Belum enam bulan, dia minta berhenti dan kembali hidup seperti dulu. Walau tidak lebih kaya, namun dia lebih bahagia, karena semua aspek hidupnya bisa terpenuhi dengan baik, seimbang, dan indah.




4.  Konsultasi Dengan Tuhan:

Memang betul bahwa dalam perjalanan hidup inimkita membutuhkan nasihat dan pertolongan sesama. Kita perlu berkonsultasi dengan orang-orang yang kita anggap dapat memberikan kita nasihat yang berharga, entah itu dari konselor keuangan, guru/ dosen, orang tua (ayah, ibu atau kakek nenek), pendeta, atau orang-orang yang ‘ahli’ pada bidangnya. Namun, konsultasi dengan Tuhan adalah langkah yang tidak kalah pentingnya untuk menjalani perjalanan sukses yang sejati. Tuhan Yesus memperingatkan kita, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Rasul Paulus menuliskan surat penggembalaan pribadinya, kepada Timotius demikian, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (II Timotius 3:16). Jelas sekali bahwa konsultasi dengan Tuhan adalah membangun komunikasi pribadi dengan Tuhan melalui doa dan membaca FirmanNya.  

Tentunya konsultasi ini tidak dilakukan hanya pada saat kritis atau kepepet saja, seperti biasanya manusia konsultasi dengan para ahli; tetapi seharusnya menjadi kebiasaan yang rutin dan pertama sekali sebelum mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, bukan setelah keputusan diambil sendiri dan keadaan sudah kacau dan membingungkan. Sebab itu sebagai orang yang sudah diselamatkan Kristus, dan dianugrahkan Roh Kudus dalam diri kita, seharusnyalah kita belajar lebih sensitif terhadap suara Roh Kudus yang memimpin kita sesuai dengan Firman Tuhan, baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Rasul Yohanes menuliskan, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yohanes 16:13).

Sebab itu, setiap langkah perjalanan akan sungguh sukses bila kita bertanya/ berkonsultasi dengan Tuhan lewat FirmanNya, lewat bisikan Roh Kudus dan hubungan doa yang intensif dan teratur. Tanyakan apa saja, apakah itu soal studi, pekerjaan, calon pacar, relasi bisnis, dan berbagai masalah lainnya dan keputusan yang akan diambil. Tanyakan apakah semua itu sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan? Cocok dengan kemauan Tuhan? Menyenagkan hati Tuhan? Ssejalan dengan pikiran Tuhan?  Atau sebaliknya, keputusan itu telah membuat Anda terjebak dalam godaan iblis, kenikmatan dunia, atau nafsu kedagingan? Apakah keputusan ini hanya untuk memuaskan nafsu kedagingan semata? Apakah Anda sudah mengikuti jalan dunia ini? Atau sudah mengikuti suara iblis hingga melanggar firman Tuhan? Ataukah hanya untuk keangkuhan ‘si aku yang lama’? Dengan mengadakan ‘cek dan recek’ kepada Firman Tuhan, dan peka terhadap suara Roh Kudus, kita akan dipimpin agar tidak tersesat.

Wanda Johnson adalah seorang wanita hitam yang menjanda dan harus menghidupi 5 orang anak yang ditinggalkan oleh suaminya. Dia miskin dan belum bekerja, namun setiap hari harus menyediakan makanan kepada anak-anaknya yang masih kecil. Suatu kali, uang di tangannya sudah habis. Harta satu-satunya adalah sebuah TV tua. Pagi itu dia membawa TV itu berjalan menuju ke rumah gadai dan mengharapkan bisa dijual dengan harga $60 untuk meneruskan menghidupi anak-anaknya. Sebelum ia tiba di rumah gadai, ia menemukan sebuah karung di pinggir jalan. Nampaknya agak mencurigakan. “Apa isinya,” pikirnya. Lalu dia mengambil karung itu dan pulang ke rumahnya. Ternyata karung itu berisi uang sebanyak $160 ribu. Wow! Banyak sekali. Uang ini akan cukup menghidupi anak-anaknya bertahun-tahun lamanya tanpa harus bekerja.

Ia tergoda untuk menyimpan uang itu dan menggunakannya perlahan-lahan. “Kemungkinan Tuhan mengasihanimu dan memberikan ‘rejeki’ ini”, suara hatinya berbisik. “Lagi pula kamu kan miskin, Tuhan juga tahu kebutuhanmu,” suara itu meneguhkan keinginan dagingnya. “Tetapi mana mungkin Tuhan menjatuhkan uang dari sorga? Pasti ada pemiliknya yang berhak atasnya,” suara lain dari hatinya mengingatkan. “Kamu kan orang Kristen, bukankah Tuhan mengajarkan agar tidak boleh mencuri? Jangan menginginkan milik orang lain? laorkan saja ke polisi,” suara itu melanjutkan lagi. Sungguh suatu pergumulan yang sulit bukan? Ketika dalam kesulitan, kepepet uang, lalu ketemu uang, banyak lagi. Siapa yang tidak tergoda untuk mengambilnya? Namun, Wanda Johnson yang beriman setia kepada Kristus dan yang berkonsultasi dengan Tuhan, akhirnya mengambil keputusan mengembalikan uang itu. Setelah dia berdoa dan bergumul lebih kurang 4 jam, dia menelepon polisi dan melaporkan uang itu dan mengembalikannya. Dia katakan: “Ini jelas bukan milik saya. Silakan kembalikan kepada yang berhak memilikinya.” Sungguuh suatu langkah sukses yang sejati, bukan? 

Nasihat Tuhan Yesus agar senantiasa ‘berdoa dan berjaga-jaga’ berarti sadar dengan pikiran yang jernih dan waspada terhadap ‘ranjau-ranjau mush’ yang akan menjebak, menjatuhkan dan menggagalkan hidup dan pelayanan kita. ‘Berdoa’ berarti bicarakan dengan Tuhan setiap detail perkara yang ada, setiap aspek hidup ini tanpa kecuali. Seringkali alasan kita untuk tidak berdoa adalah karena “Sibuk”. Ini adalah taktik Iblis. Berdoa bukan menunggu ketika ada waktu luang. Justru lebih sibuk kita lebih membutuhkan doa agar tidak menjadi salah langkah dan terjatuh. Alasan lain adalah “Capek”. Ini juga taktik dusta dari Iblis. Doa bukan diperlukan di kala tidak capek. Justru ketika tubuh kita lemah, lelah, dan capek, pada saat itu kita lebih membutuhkan doa, agar disegarkan kembali oleh Tuhan. Alasan lain? Oh lagi “Terjepit” atau “Bingung” atau  “Kacau”. Ini juga adalah taktik licik Iblis agar kita menuduh Tuhan atau marah kepadaNya dalam keadaan kritis ini. Justru dalam keadaan kritis: entah bingung, kacau, atau terjepit, kita lebih membutuhkan doa karena Tuhan akan memberikan ketenangan dan kesiapan hati untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang ada. Sediakanlah waktu yang tenang dan belajarlah mendengar suaraNya yang lembut dan meneduhkan hati dan pikiranmu untuk menjalani langkah-langkah sukses yang sejati. Coba perhatikan ilustrasi dibawah ini.

Jono adalah seorang pemuda yang suatu kali bertanya kepada pendetanya soal kehidupan doanya. Dia berkata: “Pak pendeta, mengapa Allah tidak menjawab doa saya? Saya sudah berdoa terus kepadaNya? Bagaimana saya bisa mendengar jawabannya?” Pak pendeta itu berkata lembut menjawabnya dengan beberapa kalimat. Jono tidak bisa mendengarnya karena suara pak pendeta terlalu halus. “Apa?” tanyanya. Pak pendeta memberikan tanda agar Jono datang lebih dekat kepadanya. Lalu pak pendeta berkata lagi beberapa kalimat, masih dengan suara halus dan tenang. Jono masih tidak bisa mendengarnya dengan jelas, dan bertanya lagi setengah berteriak, “Apa? Bapak bilang apa?” Kemudian pak pendeta memberika aba-aba lagi agar Jono lebih mendekat lagi. Hanya berjarak sepenggal tangan. Pendeta berbicara lagi beberapa kalimat dengan suara berbisik. Ternyata Jono masih tidak mendengar, lalu dengan kehilangan kesabaran, dia berteriak, “Pak pendeta jangan main-main dong, apa sih yang bapaka katakan? Saya tidak mendengar kalau suara bapak berbisik begitu halus. Akhirnya pak pendeta berkata kepada Jono dengan tersenyum dan tenang: “Jono, seringkali Allah kita itu berbicara dengan berbisik kepada kita, Dia hadir dalam ketenangan dan keheningan. Belajarlah datang lebih mendekat kepadaNya. Jangan berteriak dan jangan terburu-buru, jangan tergesa-gesa dan jangan marah-marah. Sediakanlah waktu, dan belajarlah bertenang di hadiratNya dan dengarkanlah bisikanNya yang lembut. Engkau akan mendengar suaranya dengan jelas. Cobalah!”



5.     Mencari Rekan Sepenanggungan:

Raja salomo yang bijaksana menuliskan Firman Tuhan berikut, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” (Pengkotbah 4:9). Ayat ini bukan spesifik menunjuk kepada pasangan hidup. Bahwa yang sudah menikah (berdua) jauh lebih baik daripada ‘single’ (tidak menikah). Bukan!  Tetapi istilah “berdua lebih baik daripada seorang diri” lebih tepat menunjuk kepada rekan/ teman yang seiman, sepenanggungan, sehati, sevisi, setujuan, dan yang bertanggung jawab. (‘accountibility friend’). Mengapa jauh lebih baik? Karena keduanya bisa saling membantu dalam cek dan re-cek, saling mendoakan, saling membangun, saling mengingatkan, saling menegur, dan saling menjaga dalam perjalanan sukses ini.  

            Dalam Perjanjian Lama, kita melihat contoh bagaimana Daud dan Yonatan membangun persahabatan yang akrab, yang sepenanggungan (baca: I Samuel 18). Sahabat yang sedemikian sesungguhnya lebih dekat daripada seorang saudara sekandung. Diantara  mereka ada suatu ‘komitmen’ untuk saling mengasihi, saling membangun, saling menolong, saling mengoreksi, saling menghargai, menghormati, bahkan saling berkorban demi kebaikan dan keselamatan sahabatnya. Demi nyawa Daud yang terancam, Yonatan memilih untuk tidak berada pada pihak ayahnya, raja Saul yang merencanakan memusnahkan Daud.
            Dalam Perjanjian Baru kita melihat bagaimana ketiga murid Tuhan Yesus, Petrus, Yohanes dan Yakobus menjadi rekan-rekan kerja dan sepenanggungan (baca: Matius 17:1; 26:37). Ketiganya merupakan murid-murid terdekat Tuhan Yesus yang bertumbuh bersama, melayani bersama, belajar bersama, dan dilatih bersama oleh Tuhan Yesus menjadi rasul-rsaul perintis gereja Tuhan di abad pertama. 
            Orang yang tidak memiliki sahabat atau rekan sepenanggungan dalam hidup dan pelayanannya adalah orang yang kasihan. Dia tidak memiliki kesempatan untuk dikoreksi dan mengoreksi, dibangun dan membangun, dikasihi dan mengasihi, ditolong dan menolong, dan  dia akan kehilangan sukacita bertumbuh dalam perjalanan sukses yang dinamis, kreatif, dan produktif.

            Ketika saya menjadi Pembina di Komisi Pemuda, ada anak muda yang bertanya kepada saya: “Pak, apakah seseorang diperbolehkan datang ke Persekutaun Pemuda dengan tujuan mencari pacar (pasangan hidup)?” Sambil tersenyum saya bertanya balik: “Menurut kamu bagaimana?” Dia menjawab: “Ya, seharusnya tidak boleh dong, gereja kan rumah Tuhan, masa tempat cari pacar?” Saya yakin Kemungkinan dia telah mendapat jawaban bahwa orang ke persekutuan itu seharusnya memiliki tujuan hanya untuk ‘mencari Tuhan’, namun sebagai anak muda adalah sangat wajar untuk mulai tertarik kepada teman lawan jenis. Sebab itu, sambil tersenyum saya katakan: “Menurut saya tidak apa-apa bila ke Persekutuan Pemuda mencari pacar. Tentunya jangan hanya mencari pacar saja, lalu setelah ketemu lalu keduanya menghilang. Maksud saya, selain belajar Firman Tuhan (‘mencari Tuhan’) dan bersekutu dengan teman-teman anak muda, apa salahnya kalau ada kesempatan mendapatkan pacar di gereja Tuhan. Bukankah lebih baik mendapatkan ‘teman hidup’ di gereja daripada mendapatkannya di diskotik atau di bar atau club sekuler? Bila ternyata tidak mendapatkan pacar, setidak-tidaknya kan bisa mendapatkan teman atau sahabat?” Dia akhirnya juga tertawa ambil manggut-manggut tanda setuju dengan pendapat saya.

            Rekan sepenanggungan yang memiliki visi dan misi yang sama dalam perjalanan sukses ini bisa saja adalah istri atau suami kita, atau pacar kita. Saya yakin suami atau istri adalah sahabat yang terbaik, terdekat yang mengenal kita ‘luar dan dalam’, bukan? Namun, bila selain istri dan suami, kita memiliki sahabat lainnya yang bisa bertekad dengan sehati, sejiwa, sepikiran, sepenanggungan, sevisi, dan semisi untuk bersama menjalani perjalanan sukses ini, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan sesuai Firman Tuhan, tentunya jauh lebih baik.

Beberapa langkah yang konkret yang bisa dilakukan dalam hal ini adalah:

  1. Coba carilah minimal seorang sahabat baik yang mau bertekad untuk menjadi rekan sepenanggungan yang setia hingga akhir hidup di dunia ini. Sebaiknya bukan istri atau suami, atau saudara sekandung sendiri. Saudara seiman dalam gereja lokal yang sama adalah pilihan yang paling ideal.

  1. Aturlah pertemuan yang rutin minimal seminggu sekali selama 1-2 jam untuk saling mengevaluasi diri dalam semua aspek dalam hidup ini. Bisa dijadwal misalnya: minggu pertama mengevaluasi disiplin dalam membaca Alkitab dan berdoa (‘meditasi’). Minggu kedua: evaluasi kehidupan keluarga (hubungan suami-istri dan orang tua-anak). Minggu ketiga: evaluasi aspek finansial dan pekerjaan. Minggu keempat: aspek disiplin dalam olah raga dan membaca buku. Demikian seterusnya dengan aspek-aspek lainnya. Dalam evaluasi ini ada tekad untuk memeriksa, bertanya, menganalisa, mengritik membangun, mengoreksi dan mengingatkan/ menegur dengan kasih dan kebenaran.

  1. Tahap selanjutnya adalah saling menyusun rencana untuk memperbaharui apa yang dievaluasi dan diikuti dengan saling mendoakan. Tentunya lebih baik lagi, kalau ada waktu belajar Firman Tuhan bersama-sama dengan sistematis danm progresif.

  1. Selain pertemuan seminggu sekali, sebagai rekan sepenanggungan juga masing-masing bertekad untuk menelepon kapan saja untuk saling ‘cek dan re-cek’ sejauh mana perjalanan sukses ini sudah dijalani dengan baik dan setia. Dengan demikian rekan kita bisa berperan bagaikan mewakili Allah yang Maha Hadir dan Maha Melihat sejauh mana kita sudah konsisten dan konsekwen dengan apa yang sudah kita tekadkan atau janjikan mau dilakukan/dijalani dengan baik dan setia. Tentunya peranan seorang rekan itu bukan mirip dengan ‘polisi’ ayau ‘hakim’ yang menakutkan atau menegangkan; melainkan sebagai ‘orang-tua’ atau ‘teman’ yang siap membantu dan menolong satu dengan lainnya. Untuk itu perlu membuat ‘tekad’ (‘komitmen’) untuk saling terbuka, saling meminta bantuan bial perlu, dan siap berkorban untuk menolong semaksimal mungkin dalam aspek apa saja, termasuk aspek yang sensitif misalnya soal finansial. Keterbukaan persahabatan ini tentunya harus menaklukkan rasa malu, rasa sungkan, atau rasa takut untuk dihina, atau direndahkan, atau ditolak. Sebaliknya, membangun saling percaya, saling mengerti, saling menghargai, dan saling mengasihi dengan konkret sesuai dengan cinta kasih Kristus yang murni dan sejati, kasih yang melebihi seorang saudara (baca lagi: Amsal 17:17).

  1. Untuk lebih meningkatkan hubungan yang lebih akrab, bisa sekali-sekali, misalnya sebulan atau dua bulan sekali adakan pertemuan dengan keluarga masing-masing, bila masing-masing sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak. Rancanglah acara yang bisa membangun keakraban diantara kedua keluarga yang ada, khususnya anak-anak bisa saling mengenal dan saling mengasihi.





6.     Mengalahkan Kekuatiran Dengan Iman:

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa dalam perjalanan sukses yang panjang ini, Allah tidak menjamin akan senantiasa berjalan mulus dan lancar. Adalah suatu fakta kehidupan bahwa orang percaya pun bisa mengalami berbagai rintangan, kesulitan, dan pencobaan. Hal sedemikian seringkali menimbulkan berbagai kekuatiran, ketika memikirkan ‘hari esok’ (masa depan) yang nampaknya masih kabur, gelap, atau tidak menentu. Kekuatiran dapat didefiniskan sebagai ketakutan terhadap sesuatu yang belum jelas wujudnya atau yang ada dalam bayang-bayang masa yang akan datang.

Tuhan Yesus menjelaskan soal mengapa kita tidak perlu kuatir. Kita adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi nilainya. Lebih tinggi dari segala binatang dan segala tumbuh-tumbuhan yang ada. Jikalau burung di udara Bapa di sorga peliharakan dan bunga di padang Dia hiasi dengan indah, pastilah kita pun Dia peliharakan jauh melebihi binatang dan tumbuhan, bukan? Lalu Tuhan Yesus simpulkan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34).Selain itu sebenarnya ada alasan lain yang lebih hakiki mengapa kita tidak boleh kuatir. Ini merupakan peringatan yang keras dari Tuhan Yesus. BagiNya, kekuatiran itu sama dengan dosa “tidak beriman” atau “tidak percaya” kepada pribadi Allah dan pekerjaan Allah. Perhatikan perkataan Tuhan Yesud dalam ayat 32, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” (Matius 6:32). Istilah “bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” menunjuk kepada ‘orang Kafir” atau “orang yang tidak beriman atau tidak percaya” -- yang hanya memusatkan hidup mereka kepada materi atau berhala yang ‘mati’.  Sedangkan Bapa kita di sorga adalah Allah yang ‘hidup’ yang mengetahui segala kebutuhan kita dan berjanji akan memeliharakan hidup kita dan mencukupkan segala yang kita butuhkan sesuai dengan kekayaan dan kemuliaanNya. (baca: Filipi 4:19).

Sebab itu langkah keenam dalam menjalani perjalanan sukses ini amat penting, yaitu mengalahkan kekuatiran dengan iman. Dengan kata lain bila masih ada kekuatiran yang menggerogoti hidup Anda, pertama-tama Anda harus bertobat, dan kembali beriman penuh atas pribadi Tuhan, janji Tuhan, dan pekerjaan pemeliharaan Tuhan. Rasul Petrus menuliskan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya (Bapa di sorga),  sebab Ia yang memelihara kamu.” (I Petrus 5:7). 
Bagaimana mengalahkan kekuatiran dengan iman? Penulis Ibrani memberikan definisi iman sebagi berikut: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dengan kata lain, walaupun kita belum atau tidak bisa melihat masa depan, atau nampaknya masa depan gelap atau kelihatannya mustahil; tetaplah yakin bahwa Allah itu melihat dan memelihara dan sanggup melakukan hal-hal yang diluar dugaan dan perkiraan kita. Bahwa bagi Dia tidak ada yang mustahil. Bahwa janjiNya tidak pernah gagal, dan Dia akan membukakan jalan yang baru yang melampaui akal pikiran kita. Rasul Paulus menuliskan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” ( I Korintus 10:13). Dan Tuhan Yesus mengatakan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Dengan percaya penuh kepada Firman Tuhan, kita akan mengalami perjalanan sukses yang diberkati Tuhan dan sekaligus menumbuhkan iman kita kepadaNya.

Seringkali apa yang tadinya kita kuatirkan pada akhirnya ternyata tidak terjadi sama sekali. Dengan demikian semua waktu, energi, pikiran, dan apa saja yang sudah kita habiskan dalam masa-masa kekuatiran itu sungguh sia-sia belaka. Betapa ruginya, bukan? Ada seorang ibu yang seringkali kuatir dalam hidupnya. Banyak hal yang dia kuatirkan. Soal finansial, soal studi anak-anak, soal pekerjaan suami, soal kesehatan, soal ini dan itu. Wah, semakin dikuatirkan dan dipikirkan terus, semakin banyak pula hal negatif yang mengerogoti hidupnya. Tidak heran hidupnya jadi stress berat. Lalu dia meminta nasihat kepada pak pendeta. Setelah mendengarkan semua keluhannya, sang pendeta memberikan dia sebuah kotak yang bertuliskan “Kotak Kekuatiran” sambil berkata kepada ibu itu: “Bu, bawalah kotak ini pulang. Saya minta setiap kali ibu kuatir – soal apa saja, ambillah selebar kertas, lalu tuliskan kekuatian ibu secara rinci, lalu bubuhkan tanggal dan bulan hari itu. Sesudah ditulis, masukkanlah kertas itu dalam kotak ini. Selembar kertas untuk satu kekuatiran. Kalau ada kekuatiran yang lain, ambillah kertas yang baru, lalu tuliskan juga secar rinci, dan beri tanggal dan bulan, lalu masukkan lagi ke kotak ini. Nanti pada akhir tahun, bawalah kotak itu kepada saya.” Setelah didoakan, ibu itu pun pulanglah dan mulai melakukan apa yang ditugaskan kepadanya.

Pada bulan-bulan pertama, ternyata ada banyak kertas yang ditulis oleh sang ibu dan dimasukkan ke kotak kekutiran itu. Lama kelamaan dia mulai sadar bahwa kertas yang dituliskan semakin sedikit. Singka cerita hingga akhir tahun, dia bawa kembali kotak itu kepada sang pendeta. “Pak, ini kotaknya. Saya heran, kok semakin hari kertas yang saya semakin sedikit, namun kotak ini nampaknya mulai penuh,” kata sang ibu sedikit keheranan. Pak pendeta tersenyum dan menjawabnya: “Bagus. Ini namanya ada kemajuan, kan? Berarti secara tidak sadar kekuatiran ibu mulai berkurang. Ketika ibu bisa menuangkan segala kekuatiran itu – apalagi bila dituangkan kepada Bapa di sorga. Dia berjanji akan memelihara hidup ibu. Ingat Firman Tuhan?” Sambil manggut-manggut, sang ibu berkata: “Benar pak, saya sendiri sering kurang beriman.” Pak pendeta lalu berkata lagi: “Nah, sekarang kita akan membuka kotak ini dan coba mengevaluasi apa saja yang sudah dikuatirkan ibu selama tahun ini. Kita akan menghitungnya ada berapa persen yang terjadi sesuai dengan apa yang ibu kuatirkan. Setuju?” Singkat cerita, setelah dibaca semua kertas kekuatiran itu dan dihitung-hitung, ternyata apa yang dikuatirkan ibu itu sama sekali tidak ada yang terjadi. Dengan kata lain, 100% hanyalah merupakan ‘bayang-bayang ketakutan’ yang diciptakan sendiri dari hati yang tidak beriman. Bagaimana dengan hidup Anda? Banyak kekuatiran? Cobalah praktikkan pengalaman ibu dengan “Kotak Kekuatiran”nya! Anda akan takjub melihat bagaimana kuasa dan janji Tuhan senaniasa menaungi Anda selama perjalanan sukses ini.




7.     Bertahan Hingga Akhir:

Ada kalanya doa-doa kita dijawab “Tidak” oleh Tuhan; ada kalanya tampak Allah berdiam diri; atau bersembunyi dari segala pergumulan kita dalam perjalanan sukses ini. Ingatlah bahwa Allah tidak bisa dianalisa oleh pikiran kita. Dia jauh melampaui pikiran, perasaan, dan melampaui segala masalah kita dalam kehidupan ini. Langkah ke tujuh dalam menjalani hidup dan pelayanan yang sukses ini adalah bertahan hingga akhir. Dengann kata lain, apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya – berat atau ringan, sakit atau sehat, lancar atau macet – kita harus bertahan hingga akhir perjalanan yang sudah dianugrahkan kepada kita sesuai dengan kedaulatan Allah. Mengapa? Karena klimaks dari perjalanan sukses ini diukur ketika kita meninggalkan dunia ini. Apakah kita mati secara sukses atau mati secara gagal, akan ditentukan ketika kita bertemu dengan Tuhan Yesus, Sang Hakim yang adil sang Tuan dari segala tuan, dan Raja dari segala raja. Orang yang bertahan hingga akhir akan menikmati kebahagiaan dan ‘mahkota’ yang sudah disediakan baginya.

Bagaimana caranya bisa bertahan hingga akhir? Perhatikan apa yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma ketika dia menasihati mereka agar menjalani hidup dan pelayanan mereka dengan penuh kasih, tidak pura-pura, penuh kebaikan, dan hidup rukun dalam saling menghormati, dan saling mengasihi. Bahkan dalam pelayanan bagi Tuhan hendaklah dengan hati yang berkobar-kobar dan jangan sampai kerajinan mereka menjadi kendor (Bacalah: Roma 12:9-11). Sebelumnya dia menjelaskan soal karunia-karunia yang sudah dianugrahkan Tuhan dan menasihati mereka mempersembahkan seluruh hidup sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1-8). Semua nasihat ini dituliskan kepada mereka dalam kondisi hidup dan pelayanan yang penuh tantangan, baik secara eksternal dari penguasa Roma yang ‘anti-Kristen” maupun secara internal dari pergumulan pribadi dan jemaat di Roma sendiri, yang heterogen dan kompleks. Rasul Paulus menasihati mereka agar terus ‘bertahan hingga akhir’ apapun yang akan terjadi. Bagaimana caranya? Dia tuliskan, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Dari prinsip Firman Tuhan ini ada tiga kunci yang praktis yaitu:

  1. Bersukacitalah dalam pengharapan. Ini adalah soal internal dalam pribadi kita. Kunci utama yang menolong kita bertahan adalah senantiasa bersukacita dalam pengharapan. Ya, pengharapan akan janji Tuhan, pengharapan yang menghasilkan kuasa, berkat, dan sukacita yang sejati (Bandingkan: Filipi 4:4 – yang ditulis Paulus di penjara). Pengharapan akan kedatangan Kristus kedua kali yang merupakan klimaks dari segala yang dijanjikanNya kepada kita. Jadi, bukan sukacita dalam pesta pora, atau kemabukan, atau dalam hal-hal duniawi yang menyesatkan. Bukan. Melainkan dalam pengharapan yang sejati sesuai dengan FirmanNya. Dengan ‘tetap bersukacita’ dunia akan tahu – dan kita buktikan bahwa kita adalah murid Kristus yang sukses menjalani hidup dan pelayanan di dunia ini, dan tentunya akan mendatangkan kemuliaan bagi NamaNya.

  1. Sabarlah dalam kesesakan. Ini adalah soal eksternal. Ketika kita menghadapi berbagai ‘tekanan dari luar’ – apa saja dan dari mana saja, misalnya: dari pihak keluarga, teman, masayarakat, politik, keamanan, finansial, dan berbagai tekanan yang seringkali akan menjatuhkan mental dan spiritual kita. Semua tekanan ini menghasilkan ‘kesesakan’ bukan? Kunci kedua untuk bertahan adalah bersabar. Artinya, jangan cepat putus asa, marah-marah, mengunci diri, membenci diri, atau bunuh diri.  Jangan ‘melemparkan handuk’ dan melarikan diri kepda hal-hal yang negatif, misalnya: alkohol, perjudian, pelacuran, atau perbuatan jahat lainnya: korupsi, menipu, mencuri, atau dosa lainnya. Sebaliknya mintalah kesabaran kepada Roh Kudus yang memang satu-satunya Oknum yang sanggup memproduksi ‘buah kesabaran’ dalam hidup kita (baca: Galatia 5:22). Jika kita meminta kepadaNya, pastilah akan diberikannya bukan? Seorang bertanya kepada pendetanya, “apa definisinya sabar?” Sang pendeta menjawabnya: “Ketika engkau sudah tidak tahan, dan ngin berteriak: ‘mana tahan’ cobalah tahan satu kali lagi.” Bila hal ini terus menerus dilakukan, Anda akan mendapatkan diri Anda seorang yang sabar dan sanggup bertahan hingga akhir. Ya kan?

  1. Bertekunlah dalam doa. Ini adalah soal vertikal. Ketika semua jalan nampaknya macet dan tertutup – maju kena, mundur kena, ke kiri kena, ke kanan kena – semua jalan buntu dan Anda kebingungan mencari jalan, ingatlah bahwa masih ada satu jalan yang tidak pernah macet atau tertutup. Itulah jalan vertikal, jalan keatas. Berdoa kepada Bapa di sorga. Jalan ini senantiasa terbuka. Berdoalah dengan tekun. Maksudnya, disiplin, rajin, setia, dan jangan berhenti. Paulus mengatakan: “Tetaplah berdoa” (I Tesalonika 5:17). Hal ini tidak berarti seseorang terus berlutut dan berdoa sepanjang hari, atau mata tertutup den komat-kamit terus menerus, atau hanya berdoa tanpa bekerja. Bukan. Tetaplah berdoa maksudnya bangunlah hubungan yang tanpa putus – ibarat ‘hot line’ dengan Bapa di sorga melalui pikiran, hati, tindakan, dan perbuatan sehari-hari. Dalam setiap aspek hidup dan pelayanan ini, tidak ada satu hal yang tidak digumulkan melalui doa, untuk memohon nasihat dan petunjukNya. Dengan ketekunan berdoa inilah mereka yang lemah akan dikuatkan, yang lesu akan digairahkan, yang ‘tertidur’ akan dibangunkan, yang ‘mati’ akan dibangkitkan, yang terjatuh akan diangkat kembali, yang sedih akan dihiburkan, yang sakit akan disembuhkan, yang terikat akan dilepaskan, yang kesesakan akan dilegakan, yang lelah akan disegarkan, yang hampir hampir berteriak ‘mana tahan’ akan ditolong untuk bertahan sekali lagi, dan yang hampir gagal akan diubah menjadi sukses. Yakinlah, bahwa hanya Allah yang sanggup menolong Anda dalam seluruh perjalanan sukses ini. Mereka yang tidak mengenal dan dikenal Allah hidup dan pelayanan ini tidak jarang menghabiskan hidup mereka sendiri karena tidak tahan menghadapi dan menyelesaikan depresi yang terlalu berat. Lihat saja ada berapa banyak selebritis yang ‘bunuh diri’ dengan berbagai macam cara. Bukan karena miskin dan kekurangan secara materi, justru dalam kelimpahan materi, namun tidak memiliki Tuhan yang hidup dan menghidupkan itu. Kematian yang menolak Tuhan, menyangkal Tuhan, dan tanpa Tuhan sesungguhnya adalah kematian yang gagal total. Sebaliknya, rasul Yohanes menuliskan wahyu Tuhan, “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: ‘Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.’ ‘Sungguh,’ kata Roh, ‘supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.’” (Wahyu 14:13).